Rabu, 29 Februari 2012

Period of Storm and Stress pada Remaja

Psikologi memandang periode remaja sebagai periode yang penuh gejolak dengan menamakan period of storm and stress. Arnett menarik tiga tantangan tipikal yang secara general biasa dihadapi oleh remaja; (1) konflik dengan orangtua, (2) perubahan mood yang cepat, dan (3) perilaku beresiko (dalam Laugesen, 2003)
Peran teman sebaya yang mulai ‘menggeser’ peran orangtua sebagai kelompok referensi tidak jarang membuat tegang hubungan remaja dan orangtua. Teman sebaya menjadi ukuran bahkan pedoman dalam remaja bersikap dan berperilaku. Meskipun demikian studi Stenberg menemukan bahwa teman sebaya memang memiliki peran yang penting bagi remaja, namun pengaruh teman sebaya cenderung pada hal-hal yang berhubungan dengan gaya berpakaian, musik dan sebagainya. Sementara untuk nilai-nilai fundamental, remaja cenderung tetap mengacu pada nilai yang dipegang orangtua termasuk dalam pemilihan teman sebaya, biasanya juga mereka yang memiliki nilai-nilai sejenis (dalam Perkins,2000).
Mood yang naik turun juga sering terdengar dari celetukan remaja. Ada dua mekanisme di mana mood mempengaruhi memori kita. (1) Mood-dependent memory ,suatu informasi atau realita yang menimbulkan mood tertentu, atau (2) Mood congruence effects, kecenderungan untuk menyimpan atau mengingat informasi positif kala mood sedang baik, dan sebaliknya informasi negatif lebih tertangkap atau diingat ketika mood sedang jelek (Byrne & Baron, 2000). Bisa dibayangkan bagaimana perubahan mood yang cepat pada remaja terkait dengan kecemasan yang mungkin terbentuk.
Remaja juga mempunyai reputasi berani mengambil resiko paling tinggi dibandingkan periode lainnya. Hal ini pula yang mendorong remaja berpotensi meningkatkan kecemasan karena kenekatannya sering mengiring pada suatu perilaku atau tindakan dengan hasil yang tidak pasti. Keinginan yang besar untuk mencoba banyak hal menjadi salah satu pemicu utama. Perilaku nekat dan hasil yang tidak selalu jelas diasumsikan Arnett membuka peluang besar untuk meningkatnya kecemasan pada remaja (dalam Laugesen, 2003)
Studi Laugesen (2003) secara khusus menunjukkan dua hal penting yang bisa menjadi acuan; (1) intoleransi terhadap ketidakpastian dan orientasi negatif terhadap masalah merupakan target utama baik dalam pencegahan maupun perlakuan pada kecemasan yang berlebihan dan tidak terkendali pada remaja, (2) intoleransi terhadap ketidakpastian juga menjadi konstruk utama dalam kecemasan remaja. Hal lain yang sangat menarik dalam temuan Laugesen adalah intoleransi pada remaja berkorelasi dengan persepsi tentang tugas ambigu, namun tidak dengan kecemasan. Hal ini menunjukkan bahwa intoleransi dan kecemasan sebagai konstruk yang unik.
Intoleransi menjadi kunci penting dalam memahami kecemasan pada remaja. Secara logika bisa dipahami bahwa ketidakmampuan individu dalam menerima ketidakpastian sebagai salah satu kenyataan yang akan dihadapi cukup menggambarkan diri orang tersebut. Hal ini juga menarik untuk kembali melirik teori dan studi tentang diri. Laugesen (2003) juga menguji tingkat kecemasan (tinggi dan rendah), di mana intoleransi tetap berperan di dalamnya. Remaja atau individu yang bagaimana tepatnya yang berpeluang untuk mengalamai kecemasan tinggi, tidak terkendali, atau yang wajar?
Self
Pada model kognitif orientasi negatif pada masalah, individu juga memiliki kecenderungan untuk meragukan kemampuan diri dalam menyelesaikan masalah yang datang. Hal ini menunjukkan peran self-efficacy dalam pembentukkan rasa cemas. Bandura (dalam Brown, 2005) menyatakan self-efficacy sebagai “a belief that one can perform a specific behavior,” dan “Self-efficacy is concerned not with the skills one has but with judgement of what one can do with whatever skills one possesses.” Individu dengan self-efficacy tinggi meyakini bahwa kerja keras untuk menghadapi tantangan hidup, sementara rendanhya self-efficacy kemungkinan besar akan memperlemah bahkan menghentikan usaha seseorang.
Pencarian identitas menjadi salah satu aikon pada masa remaja. Hal ini membawa kita untuk menelisik lebih jauh tentang self-concept yang ada maupun yang sedang terbentuk. Konsep diri merupakan cara individu memandang dirinya sendiri. Baron & Byrne (2000) merumuskan sebagai berikut, “self concept is one’s self identity, a schema consisting of an organized collection of beliefs and feelings about oneself.” Konsep diri berkembang sejalan dengan usia, namun juga merespons umpan balik yang ada, mengubah lingkungan seseorang atau status dan interaksi dengan orang lain. Pertanyaan “Siapa Anda? Siapa saya?” menjadi inti studi psikologi tentang konsep diri. Rentsch & Heffner (1994, dalam Byrne & Baron, 2000) menyimpulkan dari sekian ragam jawaban atas pertanyaan tersebut dalam dua kategori; (1) aspek identitas sosial dan (2) atribusi personal. Sebagian dari kita akan menjawab, Saya adalah arsitek, penulis, mahasiswa, dan lain sebagainya yang mengacu pada identitas sosial seseorang. Sebagian dari kita yang lain akan menjawab Saya periang, terbuka, pemalu, dan sebagainya yang lebih merujuk pada atribusi diri.
Sementara Rogers (2001) membagi konsep diri dalam dua kategori yang sedikit berbeda yakni (1) personal dan (2) sosial. Konsep diri personal adalah pandangan seseorang tentang dirinya sendiri dari kacamata diri, Sedangkan konsep diri sosial berangkat dari kacamata orang lain, Rogers menambahkan bahwa konsep diri individu yang sehat adalah ketika konsiten dengan pikiran, pengalaman dan perilaku. Konsep diri yang kuat bisa mendorong seseorang menjadi fleksibel dan memungkinkan ia untuk berkonfrontasi dengan pengalaman atau ide baru tanpa merasa terancam.
Lebih lanjut, pembahasan konsep diri membawa kita pada self-esteem, sebagai evaluasi atau sikap yang dipegang tentang diri sendiri baik dalam wilyah general maupun spesifik. Para ahli psikologi mengambil perbandingan antara konsep diri dengan konsep diri ideal atau yang diinginkan. Semakin kecil perbedaan atau diskrepansi antara keduanya, semakin tinggi self-esteem seseorang, “He/she is what he/she wants to be.” Salah satu hasil yang dituju dalam terapi Rogerian (self-centered therapy) adalah peningkatan self-esteem atau menurunkan gap antara diri dan diri ideal dalam seseorang.
Budaya & Perkembangan Budaya
Satu lagi yang perlu dipertimbangkan adalah faktor budaya. Perbedaan budaya memiliki pengaruh pada individu dalam menilai pengalaman emosi. Studi menunjukkan, di masyarakat kolektif, self critical menjadi norma, sementara di masyarakat individual, self enhancement yang berlaku (Baron & Byrne,2000). Hal ini memberikan sedikit petunjuk tentang apa yang menjadi obyek perhatian individu dalam berpikir, bersikap dan bertindak.
Masih terbuka banyak jalan untuk memahami kecemasan yang dialami remaja.
________________________
Referensi:
Baron, Robert A, & Byrne, Donn (2000) Social psychology-ninth edition. Boston; Allyn and Bacon.
Brown, Ulysses J. (2005) College students and AIDS awareness: the effects of condom perception and self-efficacy. College Student Journal, March 2005.
Laugesen, Nina (2003) Understanding adolescent worry: the application of a cognitive model. Journal of Abnormal Child Psychology, Feb.2003
Perkins, daniel F. (2000) Resiliency and trhiving in family and youth. Vol.1.No.1,March 2000
Rogers,Carl (2001) Gale encyclopedia of psychology, 2nd ed. Gale Group,2001.

Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini


Perilaku yang ditampakkan
Kebutuhan Anak
Lahir – 3 bulan
Belajar tentang dunia
Perlindungan dari bahasa fisik
Mengikuti orang dan objek dengan matanya
Nutrisi yang cukup
Bereaksi pada wajah dan warna yang terang
Perawatan kesehatan
Meraih, menemukan tangan dan kaki
Orang dewasa untuk membentuk kelekatan
Mengangkat kepala dan menoleh ke sumber suara
Orang dewasa mampu memahami dan merespon tanda dari anak
Menangis, tenang setelah digendong
Benda untuk dilihat disentuh,didengar, dirasakan dan dibaui
Mulai terenyum
Digendong, dinyanyikan dan digoyang-goyang
Mulai mengembangkan sense of self

4 bulan – 6 bulan
Sering senyum
Semua kebutuhan usia diatas
Lebih memilih orang tua dan saudara yang lebih tua
Kesempatan untuk bereskplorasi
Mengulang tindakan dengan hasil yang membuatnya senang
Stimulasi bahasa yang tepat
Mendengarkan dengan sungguh-sungguh
Kesempatan untuk bermain dengan bermacam-macam objek setiap hari
Merespon bila diajak bicara

Tertawa, cekikikan, meniru bunyi

Eksplorasi tangan dan kaki

Memasukkan benda ke mulut

Duduk dengan bantuan, berguling

Memegang objek tanpa menggunakan jempol

7 bulan – 12 bulan
Mengingat kejadian sederhana
Semua kebutuhan diatas
Identifikasi diri sendiri, bagian tubuh, suara yang dikenal
Mulai memperkenalkan makanan tambahan
Mengerti nama sendiri, kata-kata yang umum
Kesempatan untuk mendengarkan cerita, dibacakan
Pertama kali berkata yang ada maknanya
Lingkungan yang aman untuk eksplorasi
Eksplorasi, membanting, mengocok objek

Menemukan objek yang disembunyikan, menaruh objek di wadah

Duduk sendiri

Merangkak, mengangkat diri untuk berdiri, berjalan

Ada rasa malu atau enggan dengan orang asing

1 tahun – 2 tahun
Meniru tingkah laku orang dewasa
Tambahan kebutuhan diatas
Bicara dan memahami kata dan pendapat
Dukungan untuk memperoleh kemampuan motorik baru, bahasa dan berfikir
Menikmati cerita dan bereksperimen dengan objek
Kesempatan mengembangkan kemandirian
Berjalan dengan tegak, memanjat tangga, lari
Bantuan untuk mengembangkan kontrol diri
Menegaskan kemandirian, tetapi lebih memilih orang yang dikenal
Kesempatan belajar merawat diri sendiri
Mengenal kepemilikan objek
Kesempatan bermain dan bereksplorasi
Mengembangkan pertemanan
Bermain dengan anak lain
Menyelesaikan masalah
Dibacakan/diceritakan setiap hari
Memperlihatkan kebanggaan setelah menyelesaikan suau tugas
Perawatan ksesehatan sebaiknya juga memasukkan pemusnahan cacing jika diperlukan
Senang membantu

Mulai bermain peran

2 tahun – 3,5 tahun
Menikmati belajar ketrampilan baru
Tambahan diatas, mendapatkan kesempatan untuk :
Belajar bahasa sangat cepat
Membuat pilihan
Selalu siap untuk bergerak
Bermain peran
Kemampuan mengendalikan tangan dan jari
Bernyanyi
Mudah tertekan
Bermain puzzle sederhana
Lebih mandiri tetapi juga masih tergantung

Memainkan peran yang sudah dikenal (acara TV)

3,5 tahun – 5 tahun
Rentang perhatian semakin panjang
Tambahan untuk yang diatas :
Bertingkah lau lucu, ramai
Kesempatan mengembangkan motorik halus
Banyak bicara, banyak bertanya
Dorongan untuk berbahasa melalui pembicaraan, membaca dan bernyanyi
Menginginkan benda-benda milik orang dewasa
Aktivitas untuk mengembangkan perasaan penguasaan terhadap tugas
Menyimpan hasil karya seninya
Kesempatan belajar bekerja sama, membantu dan berbagi
Menguji kemampuan fisik dan keberanian dengan hati-hati
Mencoba kemampuan membaca dan menulis awal
Mengungkap perasaan saat bermain peran
Meneruskan eksplorasi untuk mempelajari sesuatu melalui tindakan
Senang bermain dengan teman, tidak ingin kalah
Kesempatan untuk mencoba bertanggung jawab dan membuat pilihan
Membagi dan berganti giliran
Dorongan untuk mengembangkan kontrol diri, kerja sama dan keteguhan menyelesaikan tugas

Dorongan untuk mengembangkan rasa keberhagaan dan kebanggaan pada penyelesaian tugas

Kesempatan untuk mengekspresikan diri (menggmbar, melukis, bermain dengan tanah)

Dorongan mengembangkan kreatifitas

Melatih gerakan ritmik

Mendengarkan semua jenis musik
5 tahun – 8 tahun
Tumbuh rasa ingin tahu terhadap orang dan bagaimana dunia bekerja
Dukungan untuk memperoleh kemampuan motorik, bahasa dan berfikir
Menunjukkan peningkatan minat pada angka, huruf, membaca dan menulis
Kesempatan tambahan untuk mengembangkan kemandirian
Membaca
Kesempatan untuk menjadi percaya diri untuk merawat diri sendiri
Menjadi lebih tertarik pada hasil akhir

Memperoleh kepercayaan diri pada kemampuan fisik

Menggunakan kata untuk mengekspresikan dan mengatasi perasaan

Menyenangi aktivitas orang dewasa
Dukungan untuk pengembangan bahasa yang lebih kompleks melalui berbiarca, membaca dan bernyanyi
Menjadi lebih terbuka, bermain dengan bekerja sama
Kesempatan belajar bekerja sama, membantu dan kerja kelompok

Manipulasi objek untuk mendukung pembelajaran

Kesempatan bertanggung jawab dan membuat pilihan

Dukungan pengembangan kontrol diri dan keteguhan untuk menyelesaikan tuas

Dukungan untuk mengembangkan rasa keberhargaan dan kebanggaan

Motivasi dan penguatan untuk prestasi akademik

Kesempatan melatihkan membuat pertanyaan dan mengamati

Kesempatan untuk bermusik, menyelesaikan tugas seni, menari

Mengikuti pendidikan dasar
Diadaptasi dari (Evans, Robert, Ilfeld, 2000)